A s s a l a m u ' a l a y k u m . . . .

ahlan wa sahlan
mohon di koreksi bila ada yang salah
mudah2n bermanfa'at

Minggu, 19 Juni 2016

SUNNAH RASUL

#SUNNAH_RASUL


surah Al-Baqarah ;185 demikian:

Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qurãn, (yang mempunyai tiga fungsi, yaitu) sebagai petunjuk bagi manusia serta penjelasan bagi petunjuk (Al-Qurãn) itu sendiri, dan pemilah (antara haq dan bathil) …

Melalui ayat ini kita mendapat gambaran tentang fungsi-fungsi Al-Qurãn.

Pertama, fungsi Al-Qurãn secara umum adalah sebagai petunjuk atau pedoman hidup bagi manusia.
Kedua, fungsi Al-Qurãn secara khusus adalah
(a) menjadi tafsir (keterangan) bagi dirinya sendiri, dan
(b) menjadi pemilah antara benar (haq) dan salah (bãthil).
Fungsi yang terakhir bisa juga disebut sebagai fungsi mushaddiq dari Al-Qurãn; yaitu fungsi membenarkan yang benar, menyalahkan yang salah, dan memilah yang campur-aduk.


Hal lain yang tidak boleh diabaikan dalam kaitan dengan wawasan Al-Qurãn adalah Sunnah Rasul. Khususnya, yang kita tekankan di sini adalah Sunnah Rasul yang terakhir, Nabi Muhammad, yang gambarannya terekam begitu lengkap dalam teks Al-Qurãn, buku-buku Hadits (yang shahih), dan buku-buku sejarah.


Al-Qurãn tidak akan dapat dipahami dengan baik, dan selanjutnya otomatis tidak akan bisa diterapkan sebagai pedoman hidup (hudan), bila kita tidak memahami Sunnah Rasul.


Selama ini para pakar agama hanya mengatakan bahwa Sunnah Rasul adalah
(1) perkataan (qaulun)
(2) perbuatan (fi’lun), dan
(3) toleransi atau ijin tak langsung (taqrirun) dari Rasulullah (Nabi Muhammad) atas tindakan orang lain, sehingga menjadi ukuran kebenaran tindakan itu. Ketiga aspek itu lah yang kita dapati tertulis dalam kitab-kitab Hadits.
 Mereka tidak memasukkan satu unsur penting yang membentuk Sunnah Rasul, yaitu sejarah penurunan, penyebaran, dan pewujudan wahyu menjadi sebuah tatanan kehidupan.


Pada hakikatnya, yang disebut Sunnah Rasul (Nabi Muhammad) itu adalah wujud Al-Qurãn di dalam kenyataan hidup (atau yang sering dikatakan orang sebagai the living Quran).
 Proses pembangunannya dimulai sejak saat Nabi Muhammad menerima wahyu yang pertama, dan berakhir setelah beliau wafat. Hal itu, yakni penurunan wahyu dari pertama sampai akhir, memang sudah diakui oleh para pakar sebagai ashrut-tasyri, alias “masa pembentukan syari’ah. Syari’ah adalah sinonim dari sunnah.


Yang harus diingat, yang disebut Sunnah Rasul itu bukanlah hanya seputar pribadi Nabi Muhammad, tapi lebih tepat digambarkan sebagai perwujudan Al-Qurãn ke dalam bentuk kehidupan bermasyarakat di Madinah, yang dipimpin oleh Nabi Muhammad.

Seperti diisyaratkan melalui surah Al-Fath ayat 29 menyatakan demikian :

"Muhammad, Rasul Allah, begitu juga orang-orang yang (seiman) bersamanya, bersikap tegas terhadap orang-orang kafir (dalam masalah hukum), seiring dengan itu mereka berkasih-sayang dengan sesama mereka (yang seiman; yang sama-sama menjaga tegaknya hukum). Kamu (pembaca Al-Quran) mengetahui (lewat informasi Al-Quran dan catatan-catatan sejarah) mereka ‘jungkir-balik’ (berusaha keras) mencari anugerah dan ridha Allah. Jejak pengabdian mereka tampak pada segala segi kehidupan (wujuh) mereka. Begitulah (pula) gambaran mereka dalam Taurat dan Injil (yang diajarkan Allah melalui Musa dan Isa).[5] (Mereka tumbuh) tak ubahnya satu tanaman (rasul) yang mengeluarkan tunasnya (umatnya); selanjutnya (tunas itu) tumbuh semakin kuat untuk berdiri tegak pada batangnya (sendiri). (Tanaman seperti itu) membuat takjub para petaninya, (dan begitu juga tumbuhnya umat rasul yang semakin kuat dan banyak menakjubkan para da’i, dan sebaliknya) membuat kesal orang-orang kafir. Kepada orang-orang beriman yang berbuat tepat (sesuai ajaran dan uswah rasul), Allah memang telah menjanjikan bahwa dari (jerih-payah) mereka (pasti menghasilkan) suatu perbaikan hidup, yakni suatu imbalan kerja yang besar luar biasa."


Ayat ini menegaskan bahwa gambaran Sunnah Rasul seutuhnya adalah kenyataan hidup yang dibangun Rasulullah bersama umat sezamannya, khususnya para sahabatnya, melalui proses da’wah. Tegasnya, bicara Sunnah Rasul bukan lah semata-mata bicara tentang diri pribadi seorang rasul, tapi tentang sebuah penataan hidup (sistem) yang dibangun sang rasul bersama para pengikutnya yang setia.


Dalam beberapa Hadits juga terbukti bahwa ketika Nabi Muhammad menyebut kata sunnahku, ia mengiringinya dengan menyebut sunnah khulafã’ur-rãsyidin (para penerusnya yang lurus).

Misalnya dalam hadist berikut :

"Aku berpesan agar kalian memelihara diri dengan (ajaran) Allah, dan (agar kalian tetap) menanggapi serta menaati (amirul-mu’minin) walau yang memerintah kalian (sebelum masa Islam adalah) seorang budak Habasyiy (Habsyi, Afrika). Sungguh, siapa pun di antara kalian yang masih hidup setelah aku (tiada), maka ia akan menyaksikan banyak perselisihan. Maka, jagalah oleh kalian sunnahku, yang selanjutnya menjadi sunnah para penggantiku yang berpegang teguh pada petunjuk (Al-Qurãn) serta tetap berbuat lurus (berdasar petunjuk). Pegang teguh lah (sunnah) itu. Yakni (ibarat kalian menggigitnya) gigitlah dengan gigi-gigi geraham. Seiring dengan itu, jauhilah oleh kalian urusan-urusan baru yang diada-adakan (sesuatu yang tak ada dalam Sunnah Rasul), karena setiap yang diada-adakan itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah berarti kesesatan. [Hadits riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzy, dengan nilai hasan shahih]."

Senin, 16 Mei 2016

B I D ' A H ( Kesesatan yang nyata)

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang2 yang di muka bumi ini,nescaya mereka akan menyesatkanmu dari ajaran Allah,mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)."

"Dan apabila dikatakan kepada mereka: "ikutilah apa yang telah di turunkan Allah" mereka menjawap : ''(tidak) tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek moyang kami''.apakah mereka mengikuti juga walaupun nenek moyang mereka tidak mengetahui suatu apa pun,dan tidak mendapat petunjuk?"

"Dan tidaklah patut bagi laki2 yang mu'min,dan tidak pula bagi perempuan yang mu'min,apabila Allah dan Rasulnya telah menetapkan suatu ketetapan,akan ada bagi mereka pilihan yang laen tentang urusan mereka,dan barang siapa mendurhakai Allah dan RasulNYA,maka sungguh ia telah sesat se-sesat-sesatnya"

"Sesungguhnya jawapan orang-orang mu'min bila mereka dipanggil kepada Allah dan RasulNYA agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan " kami mendengar dan kami patuh" dan mereka itulah orang2 yang beruntung"

..........

Sabtu, 26 Maret 2016

KIAT MENCAPAI CINTA ALLAH


 [Disarikan dari kitab "Madarijus Salikin" karya Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah]

1. Membaca Al-Qur’an dengan tadabbur dan memahaminya dengan baik.

2. Mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah sunnah sesudah menunaikan ibadah wajib.

3. Selalu dzikirullah (mengingat dan berdzikir kepada Allah ) dalam segala kondisi dengan hati, lisan dan perbuatan.

4. Mengutamakan kehendak Allah di saat berbenturan dengan kehendak hawa nafsu.

5. Menanamkan dalam hati nama-nama dan sifat-sifat Allah dan memahami maknanya.

6. Memperhatikan kebaikan, karunia dan berbagai nikmat Allah kepada kita yang lahir dan batin.

7. Menundukkan hati dan diri secara total ke haribaan Allah serta merasa hina di hadapanNya.

8. Menyendiri untuk beribadah kepada Allah, bermunajat dan membaca firmanNya serta khusyu' sepenuh hati dengan adab seorang hamba di sepertiga malam terakhir kemudian ditutup dengan istighfar.

9. Bergaul dan berkumpul bersama orang-orang yang cinta Allah dan jujur dalam cintanya, mengambil hikmah dan ilmu dari mereka.

10. Menjauhkan semua sebab yang dapat memisahkan hati dengan Allah..

Sabtu, 26 Desember 2015

TINGGALKAN DEBAT KUSIR

“Aku menjamin sebuah rumah di pinggir jannah (surga) bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan berkepanjangan meskipun ia dalam kebenaran (al haq),
juga sebuah rumah di tengah jannah bagi siapa saja yang meninggalkan berbohong walaupun ia sedang bercanda, serta sebuah rumah di puncak jannah bagi siapa saja yang berakhlak mulia.”
(HR. Abu Dawud, Dinyatakan Hasan shahih oleh Syaikh Al Albani)
💥Umar Bin Khattab berkata :
“Seseorang tidak akan merasakan hakikat iman sampai ia mampu meninggalkan perdebatan yang berkepanjangan meskipun ia dalam kebenaran, dan meninggalkan berbohong meskipun hanya bercanda padahal ia tahu seandainya ia mau ia pasti menang dalam percebatan itu”
(Kanzul Ummal juz 3 hal 1165)
💥Imam Ishaq bin Isa berkata :
“Imam Malik bin Anas mengatakan : “Debat kusir dan pertengkaran dalam masalah ilmu akan menghapuskan cahaya ilmu dari hati seseorang”
💥Imam Ibnu Wahab berkata : “Aku mendengar Imam Malik bin Anas mengatakan :
“Perdebatan dalam ilmu akan mengeraskan hati dan menyebabkan kedengkian”
(Jaami’ al Uluum wak Hikam 11/16)
💥Di antara tanda sebuah diskusi telah berubah menjadi debat kusir
🚩Nada suara mulai meninggi
🚩Tulisan mulai menggunakan istilah yang emosional
🚩Mulai muncul kata-kata ejekan atau sebutan yang merendahkan
Mengulang-ulang argumentasi
🚩Mengingkari aksioma
🚩Menolak logika
🚩Mulai melibatkan perasaan dan emosi yang berlebihan.
* aksioma = pernyataan yang dapat diterima sebagai kebenaran tanpa harus melalui pembuktian
💥Jika sudah seperti ini, sebaiknya segera tinggalkan saja karena bukan manfaat yang akan kita dapat, melainkan justru madharat. Bukan ukhuwwah yang kita raih, melainkan kebencian dan kedengkian yang kita peroleh.
💥“Janganlah kalian mencari ilmu untuk menandingi para ulama atau untuk mendebat orang-orang bodoh atau agar bisa menguasai pertemuan dan majlis-majlis. Barangsiapa yang berbuat seperti itu, maka neraka baginya, neraka baginya.”
(Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Ibnu Majah dan Al Hakim)
✏Oleh: Ustadz Fuad Al Hazimi

Rabu, 23 Desember 2015

MAHASABAH

segala laku perbuatan akan di pertanyakan dan di pintai pertanggung jawapan di akherat nanti
maka pergunakan dengan sebaek-baeknya.............

''(semesta angkasa sibuk berbuat menurut ilmu ANDA),semoga saya demikian yaa ALLAH yaa pembimbing kami,yaitu semoga kami menjadi penyanjung hidup sesuai ajaran ALLAH menurut sunnah Rasul ANDA,yaa ALLAH,mohon Revolusikan Pandangan dan Sikap Hidupku yang Dzulumad sesuai Al-Qur'an menurut Sunnah Rasul ANDA''

Sabtu, 19 Desember 2015

HAWA NAFSU

Hawa nafsumu adalah induk segala berhala
Adalah mudah menghancurkan sebuah berhala,....sangat mudah......
namun menganggap gampang menakhlukkan Hawa nafsu adalah bodoh, bodoh sekali.....
Maka kontrollah ia (hawa nafsumu) dengan baek,jika tidak ia akan menenggelamkanmu dalam lumpur yang hina.....

Sabtu, 28 November 2015

DAN MASA (KEJAYAAN & KEHANCURAN) ITU KAMI PERGILIRKAN DIANTARA MANUSIA;….. (QS.3:140).

Pendahuluan: Sekilas tentang Teori Siklus Sejarah
Adalah suatu sunatullah bahwa kehidupan manusia di dunia senantiasa mengalami perubahan. Dalam kehidupan umat manusia di muka Bumi sejak manusia pertama hingga terakhir, terjadi siklus kejayaan dan kehancuran dari berbagai peradaban. Allah SWT berfirman:
Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia;….. (QS.3:140). Ayat tersebut mengindikasikan terjadinya siklus jatuh-bangun, kalah-menang, maju-mundurnya suatu peradaban. Sebab, setiap umat memiliki ajal (QS. 3:74), yang kemudian digantikan oleh kaum yang lain (QS. 21:11).
Dalam teori gerak sejarah, Ibnu Khaldun (ahli sejarah dan juga Bapak sosiologi) menjelaskan adanya Teori siklus sejarah dalam menggambarkan arah gerak sejarah suatu peradaban. Teori ini memiliki prinsip l’historie se repete(sejarah itu berulang). Disebut pula teori biologis, karena mirip dengan fase-fase kehidupan yang dilalui makhluk hidup, misalnya manusia lahir sebagai bayi, tumbuh menjadi anak-anak, remaja, dewasa, tua, dan akhirnya meninggal. Demikian pada tumbuhan dengan pertumbuhan, fase perkembangan, penuaan dan akhirnya mati. 
Sejalan dengan gerak-sejarah Arnold J. Toynbee, seorang sejarahwan Barat, menyebutkan tingkatan-tingkatan umur peradaban, sebagai berikut: genesis of civilization (lahirnya kebudayaan), growth (pertumbuhan kebudayaan), dandecline (keruntuhan kebudayaan). Adapun gelombang kebudayaan menuju keruntuhan, terdapat tiga fase, yaitu: (1) breakdown of civilization (kemerosotan peradaban) tandanya daya cipta minoritas dan kewibawaannya (hukum dan tata nilai) hilang, sementara mayoritas tidak lagi mau mengikuti,(2) desintegration of civilization tunas-tunas kehidupan mati, pertumbuhan terhenti dan daya hidu seoalh henyap(3) dissolution of civilization (hilang dan lenyapnya peradaban). Suatu kebudayaan lahir karena tantangan dan jawaban (challenge and response) antara manusia dengan segala yang ada di sekitarnya. Pertumbuhan dan perkembangannya tersebut digerakkan oleh sebagian kecil orang (creative minority) dalam suatu umat yang memilki kesadaran sejarah (visi dan misi progresif) serta memiliki kelebihan baik fisik (militer) maupun Ilmu pengetahuan (intelektual), sementara kebanyakan orang atau massa hanya mengikut dan meniru.
Menurut Ibnu Khaldun, kehancuran sebuah negara mengandung arti munculnya negara baru. Hancurnya suatu peradaban akan digantikan oleh peradaban lain. Arnold Toynbee menyatakan bahwa di Bumi ini telah ada sekitar 21 peradaban yang sempurna dan 9 kebudayaan yang kurang sempurna, umat manusia yang jatuh secara silih berganti. Peradaban besar di dunia seperti peradaban Yunani, Romawi dan Persia hanya tinggal puing-puing reruntuhannya.Dalam siklus jatuh bangunnya tersebut, benturan (clash) peradaban terjadi secara dialektis, Dalam konteks sejarah dunia Arab yang dikajii oleh Ibnu Khaldun, benturan (clash) peradaban terjadi antara badawah (peradaban nomanden) dengan hadharah (peradaban menetap).

Akhir Sejarah dalam Klaim Futurolog Barat

Seusai perang dingin antara Blok timur yang terdiri dari negara-negara sosialis yang dipimpin oleh Uni Soviet dengan Blok Barat yang terdiri dari negara-negara kapitalis yang berpaham demokrasi liberal dan dipimpin AS berakhir dengan kemenangan AS dan sekutunya, maka panggung sejarah dunia dikendalikan oleh pemenang tunggal sebagai super power yang mengklaim diri sebagai “polisi dunia”.
Dalam kondisi demikian, para pemikir Barat sibuk memprediksikan dan mencari hipotesis tentang bagaimana episode akhir sejarah progresif perjalanan umat manusia. Francis Fukuyama dalam jurnal Interest 1989 menyatakan analisisnya melalui artikel berjudul “The End of History”,bahwa setelah Barat mengungguli rival ideologinya; monarki herediter, fasisme, dan komunisme, dunia telah mencapai satu konsensus yang luar biasa terhadap demokrasi liberal. Ia berkeyakinan bahwa demokrasi liberal adalah titik akhir dari sebuah evolusi ideologi, atau bentuk final dari bentuk pemerintahan. Dengan demikian, Fukuyama sepertinya merekomendasikan kepada bangsa-bangsa non-Barat untuk mengikuti jejak Barat dalam peradabannya dan mengadopsi demokrasi liberal sebagai ideologi negara.
Lebih lanjut, Bernard Lewis melalui artikelnya yang berjudul “The roots of muslim rag” membuat satu paradigma bahwa setelah berakhirnya perang dingin, Barat membutuhkan musuh baru yang akan menggantikan posisi komunis. Kemudian, muridnya, Samuel Huntington dalam artikel “The Clash of Civilization?” (dalam Foreign Affairs1993), secara provokatif menegaskan adanya perang peradaban,”Sumber konflik yang mendasar dalam dunia baru ini bukanlah bersifat ideologis atau ekonomi. Hal yang membelah-belah umat manusia dan sekaligus merupakan sumber konflik yang utama adalah kebudayaan. Perang peradaban akan mendominasi peta politik global”. Ia meyakinkan bahwa Islam adalah satu-satunya peradaban yang pernah membuat Barat tidak merasa aman. Ia secara lugas menyebut bahwa Islam adalah musuh Barat menggantikan posisi komunisme dalam bukunya “Who are we?”. Tesis ini di”amini” oleh Patric J. Buchanan dalam artikelnya “Is Islam an Enemy the United States?”.
Meski para pemimpin AS dalam pernyataan resmi tidak menerima hipotesis “perang budaya”, namun kebijakan Amerika pasca Perang Dingin tampaknya diwarnai ketakutan akan “ancaman Islam”.  Bahkan, Islam ditempatkan bukan hanya sebagai musuh baru bagi Barat, tapi juga musuh bagi seluruh kemanusiaan. Barat akhirnya menetapkan bahwa rival peradabannya yang paling “menakutkan” adalah Islam.  Kelompok konfrontasionalis Barat selalu berupaya mengajak pemerintahnya untuk menumpas kebangkitan Islam sebelum ia menyebar menjadi virus yang mematikan. Daniel pipes terang-terangan menyatakan bahwa: “Fundamentalis Islam menentang Barat lebih keras dibanding yang pernah dan sedang dilakukan komunisme. Komunisme tidak sepaham dengan kebijakan-kebijakan kita. Tapi, tidak masalah dengan keseluruhan pandangan kita tentang dunia, termasuk cara kita berpakaian, kawin dan berdoa”. Islam ditempatkan bukan hanya sebagai musuh baru bagi Barat, tapi juga musuh bagi seluruh kemanusiaan.

Nasib Umat Islam Masa Kini
Masa-masa dalam perjalanan fase-fase sejarah yang dilalui oleh kaum Muslimin disebutkan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya:
“Kenabian tidak terwujud antara kamu sesuai dengan kehendak Allah. Kemudian Dia akan menghilangkannya sesuai dengan kehendaknya. Sesudah itu ada khilafah yang sesuai dengan manhaj (sistem) kenabian, sesuai dengan kehendaknya. Lalu ada raja yang gigih (berpegang teguh dalam memperjuangkan Islam) yang lamanya sesuai kehendak-Nya. Setelah itu ada raja yang diktator selama waktu yang dikehendaki Allah. Lalu Allah akan menghapusnya. Lalu, akan ada khilafah yang sesuai dengan tuntunan kenabian. Lalu beliau terdiam”. (HR. Ahmad (IV/273) dan Ath-Thayalisi dalam musnad-nya (no. 438).
Masa Kenabian, Khulafa ar-rasyidin dan terakhir mulkan adhon telah berakir sampai dengan kekhalifahan Islam Islam yang terakhir khalifah utsmaniyah, yang berpusat di Turki (1517-1924 M/923-1349 H). DR.Yusuf Al-Qarodhowi dan ulama lainnya menyebut masa yang kita alami dewasa ini adalah masa mulkan jabariyah (kekuasaan global yang menghegemoni) , Masa ini ditandai dengan munculnya penguasa di negara-negara muslim pasca kolonialisme Barat, yang mengadopsi sistem pemerintahan dan hukum alanegara yang menjajahnya. Penguasa negeri muslim memaksakan sistem impor berupa sistem kapitalisme-liberal dan demokrasi-sekuler sebagai ideologi dan alat untuk mengatur urusan umat Islam. Sebagaimana dinyatakan Yudi Latif, Ph.D, bahwa dalam sejarahnya, kekuatan-kekuatan kolonial-lah yang mendorong dan memberikan perhatian yang besar pada proyek sekularisasi sebagai upaya untuk mengenyahkan Islam dari ranah politik (political sphere).
Sebagai contoh, kasus di Turki pasca hancurnya khilafah al-Utsmaniyah Islamiyah, Mustafa Kemal, seorang komandan militer Turki, menggunakan kekuatan militer secara otoriter memaksakan nasionalisme (yang dikemas dengan ideologi kemalisme) dan gerakan sekularisasi Turki. Di Mesir, sikappseudo-demokrasi bahkan represif pemerintah dalam mengekang gerakan dakwah dan kemenangan harokah Islamiyah, serta sikap curang rezim militer dan penguasa nasionalis-sekuler yang dibantu Perancis di Al-Jazair terhadap kemenangan partai FIS, dll.
Penguasa-penguasa tersebut tidaklah membawa umat Islam kepada kemajuan, kemakmuran dan keadilan, namun justru semakin terpuruk baik dari aspek agama, sosial, politik, ekonomi, keamanan, dstnya. Eksploitasi kekayaan alam milik umat tanpa perhitungan yang diserahkan kepada pengusaha kapitalis asing, terjeratnya negara oleh utang luar negeri dari negara-negara kapitalis dengan sistem riba yang berbunga besar, sistem ekonomi dan politik yang tunduk pada skenario negara-negara Barat, khususnya super power AS, dstnya.
Demikianlah, sedikit demi sedikit bangunan Islam dibongkar mulai dari syariat dan kekuasaan politik yang memayunginya hingga akhirnya kewajiban-kewajiban agama yang paling asasi (fardhu ‘ain) bagi tiap pribadi muslim. Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh ikatan simpul-simpul Islam akan terputus satu persatu. Apabila satu ikatan simpul terputus maka orang akan bergantung pada ikatan simpul yang berikutnya. Simpul ikatan yang pertama kali terputus adalah hukum, dan yang paling akhir adalah sholat” (HR. Ahmad). Akibatnya, Islam yang kaffah menjadi asing (bada-a al-Islamu ghariban wa saya’udu ghariban kama bada’a fathubaa li al-ghurabaa). Terlebih lagi ketika gencarnya ghazwul fikr deras melanda pemahaman dan keyakinan kaum muslimin yang mengubah syakhsiyah-nya mengikuti way of life dan life style ala Barat, Rasulullah SAW bersabda: latattabi’anna…”Sungguh, kamu akanmengikuti kebiasaan (cara hidup) orang-orang sebelum kamu sedikit demi sedikit, hingga seandainya mereka masuk ke lubang biawak pun kamu tetap akan mengikutinya. Para shahabat bertanya: Apakah orang yang diikuti itu yahudi dan Nashrani? Rasulullah menjawab: Siapa lagi?” (HR. Bukhari)
Pada masa ini kekuatan umat Islam sang lemah seperti buih (gutsa as-sail), umat atau peradaban lainnya berlomba-lomba untuk mengeksploitasinya. Umat Islam dewasa ini, secara kuantitas banyak, namun secara kualitas sangat rendah. Rasulullah menyebut bahwa mereka terjangkiti penyakit wahn yaitu hubb ad-dunya wa karohiyah al-maut.Hal itu tampak dari gaya hidup materialis, kapitalis, liberalisdan hedonis,serta takut berjuang untuk Islam.

Masa Depan Islam di Penghujung Sejarah

Nabi Muhamad SAW sebagai seorang yang as-shodiqul mashduq (Seorang yang jujur dan selalu diakui kejujurannya)dan senantiasa dalam bimbingan wahyu (QS. An-Najm: 3-4) menyebutkan dalam hadis-hadis futuristik beliau tentang masa depan umat beliau, antara lainJatuhnya Kota Roma bahkan wilayah Eropa dan Amerika pada umumnya di bawah kekuasaan Islam. “Suatu ketika kami sedang menulis di sisi Rasulullah Saw, tiba-tiba beliau ditanya: ”Mana yang lebih dahulu ditaklukkan, Konstantinopel atau Romawi?”. Beliau menjawab: “Kota Heraclius-lah yang akan ditaklukan terlebih dahulu.” (Kota Heraclius) maksudnya adalah Konstantinopel.” (Shahih. HR. Imam Ahmad (II/176), ad-darimi (I/126), al-Hakim (III/422 dan IV/598), dll).Rumiyyah adalah Roma, ibukota Italia sekarang.Sebagaimana diketahui dalam sejarahnya, kemenangan yang pertama diraih kaum Muslimin—yaitu direbutnya kota Konstantinopel—dipimpin oleh Muhammad al-Fatih al-Utsmani (lebih dari 800 tahun setelah Rasulullah menyampaikan hadis tersebut). Adaoun, kemenangan kedua (direbutnya kota Roma), InsyaAllah akan diraih dibawah kepemimpinan khalifah yang tangguh.
Selanjutnya, Kaum Muslimin akan memiliki kekuasaan atas seluruh penjuru bumi. Rasulullah SAW bersabda : (artinya) “Allah SWT telah menghimpun (mengumpulkan dan menyatukan) bumi ini untukku. Oleh karena itu, aku dapat menyaksikan belahan Bumi Barat dan Timur. Sungguh kekuasaan umatku akan sampai ke daerah yang dikumpulkan (diperlihatkan) kepadaku itu.” (Shahih. HR. Muslim (8/171), Abu dawud (4252), At-Tirmidzi (2/27).
Masa ini adalah menjelang berakhirnya umur dunia sebab Nabi terdiam setelah menyebut fase ini. Hal tersebut mengisyaratkan tidak ada lagi fase setelah itu melainkan berakhirnya sejarah dunia (kiamat). Rasulullah bersabda:“Tidak akan terjadi hari kiamat hingga kaum Muslimin memerangi orang-orang Yahudi. Mereka ditumpas oleh kaum muslim sampai tatkala mereka bersembunyi di balik bebatuan dan pepohonan, maka batu dan pohon itu akan berkata: Wahai Muslim, wahai hamba Allah, ini orang Yahudi ada dibelakangku, datang dan bunuhlah dia. Kecuali pohon Gharqod, karena sesungguhnya ia adalah pohon kaum Yahudi”. (HR. Muslim dari Abu Hurairah).
Keberadaan hadis-hadis Nabi Muhammad SAW ini, menurut Syaikh Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani merupakan kabar gembira mengenai kembalinya kekuasaan kepada kaum muslimin dan tersebarnya pemeluk Islam di seluruh penjuru dunia hingga dapat membantu tercapainya tujuan Islam dan menciptakan masa depan yang prospektif dan membanggakan.
Kalau Fukuyama menyatakan bahwa the end of history(akhir dari sejarah umat manusia) dimenangkan oleh peradaban Barat. Maka, kita meyakini bahwa the end of history dimenangkan oleh peradaban Islam. Hal demikian berdasarkan taujih Rabbani tentang pergiliran kekuasaan ( di ayat sebelumnya) serta janji-Nya untuk kemenangan agama ini, dan khabar dari Rasulullah yang shahih di atas.
Syaikh Nashiruddin Al-Albani berkata: tidak sedikit (orang) yang mengira bahwa janji tersebut telah terwujud pada masa Nabi SAW, masa Khulafa ar-Rasyidin, dan pada masa-masa khilafah sesudahnya yang bijaksana. Padahal kenyataannya tidak demikian. Yang sudah terealisir saat itu hanyalah sebagian kecil dari janji di atas sebagaimana diisyaratkan oleh Rasul SAW melalui hadisnya—riwayat Muslim dan yang lainnya.
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan mengganti kondisi mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang kafir sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS. An-Nur:55).

Demikianlah masa-masa itu akan berlangsung yang kebenarannya Insya Allah telah, sedang dan akan kita saksikan: “Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui (kebenaran) berita Al Qur’an setelah beberapa waktu lagi”(QS. Shaad: 88)


Perjuangan Menuju Masa Depan Kejayaan Islam
“…Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri… (QS. Ar-Ra’d : 11). Untuk merubah kondisi kemundurun yang dialaminya pada hari-hari ini, umat Islam harus berjuang dan bangkit. Adapun arah kebangkitan menuju kejayaan tersebut adalah kembalinya umat Islam kepada Islam sebagai dien-nya yaitu Islam sebagai landasan aqidah dan ideology mereka, dan syari’at sebagai system hidup (manhajul hayah) yang diterapkan dalam semua dimensi kehidupan. “Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?” (QS. Al-Anbiya : 10). Rasulullah SAW bersabda: Idza tabaya’tum bil ‘inah wa akhodztum adznabal baqori wa radhitum bizzar’I wa taraktumul jihad, sallathollahu ‘alaikum dzullan, la yanzi’uhu hatta tarji’uw ila diinikum. (“Jika kamu telah berjual beli dengan system riba, dan sibuk dengan (profesi kehidupan dunia berupa) peternakan dan pertanian serta meninggalkan kewajiban jihad. Maka, Allah akan menimpakan kepada kalian kehinaan. Kehinaan itu tidak akan dicabut sampai kalian kembali kepada agama kalian”. (HR. Abu Dawud, di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albani).
Tugas umat Islam adalah menyambut berita kemenangan dengan menyiapkan kekuatan (I’dad al-quwwah) serta berjihad di jalan Allah, sebagaimana Allah SWT perintahkan: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya” (QS. Al-Anfal : 60) “Hai orang-orang mu’min, jika kamu menolongAllah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.“ (QS. Muhammad : 7)
Walaupun saat ini kekuatan umat Islam sangat lemah seperti buih (gutsa as-sail), secara kuantitas banyak, namun secara kualitas sangat rendah, sementara umat atau peradaban lainnya berlomba-lomba untuk mengeksploitasinya. Namun, ketahuilah, tetap akan ada para mujadid yang “memperbaharui agama” setiap seratus tahun (1 abad). Demikian pula tetap ada selalu orang-orang yang memegang teguh Islam dan memperjuangkannya (la tazalu thaifatun min ummati dhahiratan ‘ala al-haq, la yadhuruhum man khalafum hatta ya’tiya amrullahi wa hum ‘ala dzalika.” (HR, Muslim). Artinya: “Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang menegakkan al-haq. Orang-orang yang menyelisihi dan memusuhi mereka tidak akan mampu memudaratkan mereka sampai Allah menetapkan urusan-Nya dan mereka tetap komitmen dengan sikap mereka). Mereka adalah al-ghuraba’ wa al-firqatun al-najiyah wa at-tha’ifah al-manshurah (orang-orang yang “terasing”, yang mendapatkan kemenangan dan pertolongan). Semoga Allah Ta’ala menggolongkan kita termasuk bagian dari mereka. Amiin.
Muhammad Wassel menjelaskan: “dewasa ini Islam sedang melintasi suatu fase yang sangat kritis. Kebangkitan Islam secara luas mendapat tempat di hampir setiap negeri Muslim. Struktur-struktur politik dari berbagai negeri muslim sedang mengalami diversivikasi besar-besaran semenjak tercapainya kemerdekaan. Gerakan Islamisasi yang ditujukan untuk tercapainya renaisans intelektual dan kultural, muncul di seluruh dunia Islam dengan semangat yang sangat besar untuk merehabilitasi Islam, membangkitkan kembali kejayaan peradaban masa lalu dan membangun kembali ideologi Islam”

Translate